“Infotaiment Ghibah” yakni memperbincangkan dan menggunjing kejelekan privaty orang lain dimuka umum telah menuai kritik yang tajam. Pro kontra merebak kemana mana, namun sampai saat ini nampaknya belum membuahkan hasil yang nyata. Ghibah yang belum jelas kebenaranya kemudian diexpose berturut turut dan berlarut larut maka akan berevolosi menjadi “Kambing Hitam”. Jika telah menjadi kambing hitam dampaknya jauh lebih kejam, lebih heboh, lebih dahsyat daripada Ghibah. Kambing hitam sulit disentuh oleh fatwa Ulama` atau fatwa agamawan karena kambing hitam adalah “samar”. Kesamaranya “Kambing Hitam” sulit dijangkau oleh pikiran awam, pembuktianyapun membutuhkan waktu yang panjang.
Era tahun `80an sering diketemukan berita kelam berwujud “PKI”. Dan ditahun `90an banyak muncul berita ghibah berwajah “babi ngepet”, “tuyul”, “kolor ijo”, “santet”. Terciptalah instabilitas keamanan selanjutnya setelah situasi kondusif terbitlah korban nama nama ekor “Kambing Hitam”nya. (lagi…)
Memancing ikan adalah hobi yang tidak semua orang menyukai, sebagian orang meremehkan hobi tersebut, padahal jika pelaku pemancing ikan bisa testimoni seperti testimoninya mantan ketua KPK Antasari Azhar, maka ahli memancing ikan akan mampu menyampaikan betapa indahnya memancing ikan, terutama disaat umpannya di telan oleh ikan.
Ketika teman-teman kirim SMS “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, telah meninggal KH. Taufiqurrahman fatah” saya spontan menjawab “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un”, sebetulnya bukan karena saya sudah tahu atau bisa menebak kepergiannya, tetapi justru kami kaget dan terasa ada yang “kosong” di dalam jiwa saya saat perjalanan nyambangi beliau di rumah sakit Surabaya.
Saat melakukan pendaftaran, relawan yang siap dikirim ke Palestina itu diminta menyerahkan identitas seperti KTP, SIM atau kartu pengenal lainnya. Sebagai tahap awal, para pendaftar tersebut diperiksa kesehatannya. ”Yang pasti sebelum diberangkatkan ke Palestina, para relawan terlebih dahulu diperiksa kesehatannya. Jika kesehatannya tidak memenuhi syarat, secara otomatis mereka tidak diperbolehkan berangkat,” kata M Ikhsan Effendi, komandan Banser Jombang saat berada di secretariat pendaftaran Jalan Raya Ceweng, Kecamatan Diwek, Jombang. Dijelaskan, berdasarkan keterangan petugas pemeriksa, terdapat dua relawan yang gagal berangkat karena tak lolos tes kesehatan. Bagi yang lolos tes, kata Ikhsan, relawan tersebut akan segera didaftarkan ke Kantor Imigrasi untuk mendapatkan paspor.
M Syahir, salah satu pendaftar yang lolos tes kesehatan mengatakan, pihaknya sudah siap secara lahir batin unruk berangkat membela bangsa Palestina. Syahir beralasan, apa yang ia lakukan merupakan jihad. ”Sesama muslim adalah satu tubuh, jika saudara muslim di Palestina disakiti kami juga ikut sakit. Untuk itu kami siap membela saudara kami yang teraniaya,” kata warga Kecamatan Mojowarno yang mengaku sudah mendapatkan izin dari keluarga dan kerabatnya itu.

