the-jama-masjid-in-old-delhi-the-largest-mosque-in-india-built-by-shah-jahan-delhi-india-photographic-print-c12893045Memancing ikan adalah hobi yang tidak semua orang menyukai, sebagian orang meremehkan hobi tersebut, padahal jika pelaku pemancing ikan bisa testimoni seperti testimoninya mantan ketua KPK Antasari Azhar, maka ahli memancing ikan akan mampu menyampaikan betapa indahnya memancing ikan, terutama disaat umpannya di telan oleh ikan.

Pengalaman memancing hampir mirip dengan pengalaman kebiasaannya hamba Allah yang suka dengan ibadah puasa. Apakah puasa sunat ataupun puasa ramadhan. Berlama-lama asyik dengan kail ditangan kemudian hatinya terkejut disaat umpannya disantap ikan, identik dengan orang yang berpuasa berlama-lama dalam kehausan dan menahan lapar kemudian mendengar suara adzan maghrib berkumandang.

Tentu keindahan pengalaman memancing akan menjadi keindahan tersendiri bagi pelakunya. Demikian juga berpuasa, kenikmatannya tidak bisa dirasakan oleh orang yang tidak berpuasa. Pengalaman itulah “bagaian” artikulasi Anta’ budullaha Ka Annaka Tarohu. Sebuah pengalaman indah hamba Allah yang bisa menyaksikan atau merasakan dzat Allah.

Beribadahlah kepada Allah seolah-olah dirimu berhadapan dengan Allah. Arti “Al-Ihsan” dari hadits rosulullah disampaikan kepada para sahabat saat itu, sederhana di lisan namun sulit dilaksanakan. Dalam hadits tersebut diberikan solusi Fainlam Takun Tarohu Fainnahu Yaroka. Yaitu jika kita tidak bisa “memandang” Allah, maka berusahalah seolah-olah kita sedang diperhatikan oleh Allah. Maqom Al-Ihsan adalah tingkatan ibadah paling tinggi dihadapan Allah setelah Iman-Islam-Ihsan.

Menurut Dr. ‘Aidh Al-Qarni, agar kita bisa menempuh Al-Ihsan level ketiga dalam beribadah yaitu berpedoman surat Al-Imran ayat 134 : (Dan orang-orang yang menahan kemarahan dan memaafkan kesalahan orang yang menyakitinya adalah disukai Allah). Atau dalam surat An-Nur ayat 22 yaitu : (Dan hendaklah bisa memaafkan mereka yang telah menyakiti dan juga bersikap lapang dada).

Metode amalan Al-Ihsan yang diberikan oleh Dr. ‘Aidh Al-Qarni didalam bukunya Laa Tahzan adalah sangat amat sulit untuk dilaksanakan oleh kebanyakan orang, meskipun demikian kita mengharapkan untuk bisa melakukannya. Kesulitan itu karena dalam sejarah sifat manusia, bahwa manusia selalu mengingkari kebenaran dan kebaikan.

Keingkaran sifat manusia itu disampaikan oleh Imam Ahmad dalam bukunya Az-Zuhud. Dalam pembukaan kitab itu disampaikan bahwa Allah telah memberikan segalanya tetapi diingkari oleh banyak manusia. Dikisahkan juga dalam catatan biografinya nabi Isa AS, bahwa nabi Isa telah mengobati sebanyak 30 orang sakit dan telah banyak menyembuhkan orang buta, namun kemudian mereka itu berbalik menjadi musuh-musuhnya.

Kesulitan untuk bisa memaafkan orang yang telah menyakiti ataupun berlapang dada terhadap orang yang mendzolimi adalah bagaian dari pelajaran untuk mengenal “Dzat Allah”. Hal itu tercermin dari pengampunannya nabi Yusuf terhadap sudara-saudaranya yang dijelaskan dalam Surat Yusuf ayat 92. Demikian juga Rasulullah memberikan pengampunan umum kepada bangsa Quraisy yang pernah mengusir dari tanah kelahirannya ketika menaklukan kota Makkah. Abu Bakar Ash-Shidiq memberi maaf kepada Misthah seorang fakir miskin yang memfitnah Khulafaur Rasyidin. Demikian juga Umar Ibnu Khattab berlapang dada terhadap Uyainah Ibn Hashn yang mengejek kebijakannya disaat memimpin negara. Dan banyak lagi tauladan untuk kita dari orang-orang mukhlish yang melakukan keikhlasan terhadap orang-orang yang telah memusuhi dirinya.

Tak terhitung ragam hikmah yang terkandung di bulan ramadhan, apakah hikmah yang tersirat ataupun tersurat. Seperti halnya, pada saat menjelang ramadhan kita menjadi latah saling ber sms dengan memberikan ucapan “Marhaban Yaa Ramadhan, mohon dimaafkan semua kesalahan saya”. Kebiasaan umum ber sms seperti itu yang tidak kita sadari sebelumnya, adalah salah satu dari hikmah ramadhan yang telah dirasakan secara langsung, belum lagi hikmah yang lainnya.

Sering kali turunnya hidayah kepada beberapa orang setelah orang-tersebut tersadarkan karena merasakan pengalaman atau menyaksikan “Nilai Kejut” didalam kehidupannya. Seperti Sunan Kalijaga terpesona disaat Sunan Bonang menunjuk pohon kolang-kaling menjadi emas. Juga orang kafir Quraisy banyak yang masuk islam setelah menyaksikan orang yang akan membunuh Rasulullah terkena adzab. Yaitu, Amir Ibnu Thufail mati setelah kena penyakit gondok di leher, kemudian Arbat Ibnu Qois mati disambar petir dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, diakhir ayat perintah puasa adalah Laallakum Tattaquun yaitu agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Melakukan perenungan, pendalaman dan tadabbur merupakan satu dari sekian banyak cara untuk bisa memperoleh hikmah di bulan ramadhan ini dan semoga kita menjadi golongan orang-orang yang mengenal dzat Allah dan takut terhadap Allah.

* Penulis adalah

Ketua Orda ICMI (Oraganisasi Daerah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Jombang